Kejujuran
yang Berarti
Ada hari dimana perjalanan kehidupan ini dimulai dan tentu akan
ada akhir dari segalanya. Aku tahu, masih banyak hal yang tak pernah
terpikirkan olehku namun tentu saja aku tak pernah menyadarinya. Entah kenapa
perasaan yang dulunya berbunga-bunga ini, tiba-tiba berubah menjadi batu yang
sulit untuk dipecahkan. Aku tau ini bukanlah hal yang mudah. Tapi beginilah
kehidupan, memang tak kan selalu berjalan mulus, pasti terselip suatu lika-liku
kehidupan.
Empat
tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku SMP kelas tiga. Aku sekolah di SMPN 2
Payakumbuh. Aku punya teman namanya
Tiara, Rendy dan Albert. Bisa dikatakan dia sahabatku, selalu ada disaat aku
butuh, selalu menemaniku disaat kesepian, ikut tersenyum disaat bahagia, bahkan
rela mengalah padahal hati kecilnya menangis.
***
Pagi
yang cerah, kami duduk di bangku tujuh “seperti bangku dalam angkot
aja,haha...” ledekku dalam hati.
Posisinya
cocok banget, di depan taman bunga yang bermekaran, selalu dihinggapi kupu-kupu
yang bebas terbang kian-kemari.
“Senangnya
ya, hidup bebas seperti kupu-kupu, apalagi seperti burung, bebas terbang
diudara”
“Kupu-kupu
yang cantik”, ucapku.
Bukan hanya kami saja, teman lainnya juga ikut
duduk bareng. Kalau anak sekarang menyebutnya “Hang Out”.
Tak
lama kemudian bel pun berbunyi, kamipun menuju kelas dan memulai pelajaran pagi
ini dengan senyuman.
Seperti
kata-kata bijak ini lho “Mulailah
suatu pekerjaan dengan senyum semangat”.
Otomatis
sih , “aku pikir apapun yang diawali
dengan senyum semangat akan membuahkan hasil yang baik, terutama dalam menerima
pelajaran”, ucapku dalam hati.
Seperti
biasa, maklumlah anak SMP yang dalam masa pubertas pasti tingkahnya itu
aneh-aneh. Tiara teman sebangkuku sering cerita masalah cowok, tapi gak sering
banget sih, lebih banyak bicara masalah pelajaran. Dia termasuk anak pintar
juga dikelas. Biasalah anak zaman sekarang yang baru labil.
Ketika
sedang seriusnya buat tugas matematika yang super sulit ini, yang bikin otak
pusing dan nyut-nyutan ini, tiba-tiba
Tiara membuyarkan semangatku,
“Vi,
eh ini gimana sih caranya nih, kok gak ada hasilnya ya?”, kata Tiara.
“Ilmu
itu kalau dibagi-bagi pasti akan lebih bermanfaat buat orang lain, terutama
buat diri sendiri juga”, ucap Tiara lagi sok bijak.
Seperti
biasa, aku selalu membantunya.
“Haha,
sok bijak kamu, santai aja. Oh ya, gini, tinggal cari jalan pintasnya aja”,
jawabku sok paham, padahal memang udah paham sih.
“Eh,
gampang ya”, kata Tiara sambil tertawa.
Gak
kalah juga sama Rendy dan Albert yang duduk dibelakangku dan Tiara. Dua makhluk
sok keren ini selalu saja bertingkah aneh, mereka selalu membuat suasana belajar
kita jadi lebih semangat sih, meski selalu mengganggu, menggoda dan merayu. Tapi
itulah mereka, bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Beberapa
jam kemudian bel sekolah pun berbunyi, sudah tiga mata pelajaran kita lalui,
dan inilah waktunya jam pulang. Begitulah hari-hari yang kita lalui di sekolah.
***
Angin sore menerpa wajahku yang sedang asyik-asyiknya melamunkan
hal yang ga’ tau kenapa bisa dia lamunin. Hal ini tuh udah bikin aku galau
belakangan ini. Ya, apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Jatuh cinta udah membuat
aku kaya orang bego. Saat itu Tiara, Rendy dan Albert udah punya rencana
buat tugas bareng dirumahku. Tapi ga’ tau kenapa hari ini ada yang aneh pada
diriku. Awalnya Tiara, Rendy dan Albert udah nyangka sih kalau aku tuh lagi
mikirin someone.
“Huaaaa”, Rendy berteriak kencang dibelakangku untuk membuyarkan
lamunanku.
Aku pun kaget dan marah “Aaaa..... Sialan lho, hampir aja aku
jantungan, kenapa? Any problem,
hah?”, kataku dengan spontan.
Tiara yang sedang buat tugas pun kaget, “Tuhan, bawa aku ke tempat
yang aman, ke atas pohon boleh deh, asal aku aman dari orang ini”, kata Tiara
bercanda.
“ Haha, sok lu”, Albert ngeledek.
Begitulah aktivitas yang kita lakukan bersama-sama, kita dapat
tugas kelompok matematika, kebetulan juga kita sekelompok. Jadi ga’ susah-susah
lagi. Setiap pulang sekolah kita selalu belajar kelompok, dari sinilah
terciptanya suatu kebersamaan. Hari-hari yang
kita lalui terasa cukup panjang. Membawa kita dalam canda tawa dan kebahagiaan.
Hingga sampai pada akhir semester dikelas
tiga, kita masih bersama layaknya orang lain yang pasti punya sahabat baik.
Namun, canda tawa dan kebahagiaan yang kita rasakan selama ini takkan selalu
kita rasakan nantinya. Tiba waktunya bagi kita melanjutkan pendidikan
selanjutnya ke jenjang SMA. Alhamdulillah dalam pengumuman kelulusan, kita
lulus. Namun, kita tak sepenuhnya merasakan kebahagiaan, saat kita tengah
menikmati indahnya kebersamaan, kita kembali dihadapkan pada suatu perpisahan.
Tapi, apalah daya, kita harus menjalani
hal ini untuk masa depan kita bersama.
***
Hingga saat pendaftaraan penerimaan siswa baru SMA, aku
berniat mendaftarkan diri ke SMAN 3 Payakumbuh, karena memang dari dulu aku
berminat untuk sekolah disana. Tapi berbeda dengan Tiara, Rendy dan Albert.
Kita punya pilihan masing-masing yang berbeda. Tiara melanjutkan sekolahnya ke
Bukittinggi, Rendy ke STM masih di kota sekarang sih sedangkan Albert aku ga’
tau kemana dia mau melanjutkan sekolahnya. Karena mungkin faktor orangtua, jadi
sekolahnya agak bermasalah. Kasihan juga, tapi apa yang harus kita perbuat. Mungkin
ini memang pilihannya.
(Beberapa bulan kemudian)
Aku
selalu memperhatikan mentari dan rembulan, mereka saling melengkapi. Pada malam
hari, bulan dan bintang akan menjadi teman untuk menyinari suasana malam.
Mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah saling bertabrakan ketika
saling bermunculan dilangit, mereka tidak pernah bersahabat namun saling
melengkapi satu sama lain. Lalu, bagaimana dengan persahabatan kita sekarang,
tak ada lagi canda tawa yang kita lalui. Semenjak tak satu sekolah ini,
hubungan persahabatan ini pun semakin merenggang.
Namun,
aku sadar memang sulit buat kita bersama lagi. Dalam keadaan seperti ini, beda
sekolahan. Apalagi Tiara yang sekolahnya beda kota dengan kita. Sulit buat
ketemuan. Telfonan ataupun sms pun jarang, kesibukan mendatangi diri mereka
masing-masing, begitu juga aku, selalu disibukkan dengan tugas sekolah.
***
Waktu
terus bergulir, tak terasa sudah berbulan-bulan, aku, Tiara, Rendy dan Albert
tak pernah berjumpa. Sebentar lagi bulan puasa menghampiri kita, dimana setiap
muslim berlomba-lomba untuk mencari pahala. Kebetulan jadwal sekolah tak
sepenuhnya kita belajar. Sekitar dua minggu proses belajar mengajar dilakukan.
Dan selebihnya kita diliburkan. Biasanya kaum remaja memanfaatkan moment ini dengan mengadakan acara buka bareng. Cafe-cafe saat itu laris manis, banyak
pengunjung yang datang untuk buka bareng teman-teman lama, bareng keluarga
maupun teman special.
Aku
sempat berpikir “Andaikan kita buat acara buka bareng, sepertinya seru nih, kapan
lagi?”.
Kebetulan di tempat aku tinggal, banyak sih
teman-teman alumni SMP. Jadi ga’ susah lagi buat ngumpulin mereka, terutama
Rendy dan Albert. Ini kesempatan buat kita.
“Tapi,
sayang, Tiara Nun Jauh Disana, gimana
caranya?”, pikirku.
“Ah,
bisa kok, pasti bisa, ku berharap dia bisa, msa’ ga’”
Ku
telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan mereka, teman-teman alumni
semasa aku di SMP dulu, ini harapanku untuk mencoba berkumpul kembali. Aku
bersusah payah, minta nomor handphone,
mencari rumah mereka. Aku terus berusaha bersama temanku Rina, teman SMP ku
juga, yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumahku.
Hingga
sampailah pada puncak acara, penantian yang berujung pada pertemuan.
Alangkah bahagianya
hati ini, namun tak cukup. Memang kebahagiaan itu tak sepenuhnya didapatkan.
Tiara, sahabat terbaikku, dia tak bisa hadir memenuhi acara reunian ini. Betapa
sayangnya, dia kembali mengecewakanku. Tapi ku kembali harus bersabar.
“Tak
apalah”, ucapku dalam hati.
Moment terbaik ini kuharap takkan disia-siakan lagi.
***
Tiada
angin tiada badai, tiba-tiba saja ponselku berbunyi,”Kriinngg, krriiiinnggg”.
Satu pesan ku terima
dari Rendy, tak seperti biasanya dia mengirimku sebuah pesan.
Rendy:
Assalamu’alaikum...
Hai
vi, gimana kabarnya?
Entah
apa yang kurasakan, haruskah ku bahagia ataukah aku harus gimana. “Duh, aneh.
Ada yang lain dalam diriku.” Kataku dalam hati.
Secara spontan, ku balas pesan ini. Namun,
tetap hanya sebagai seorang sahabat yang aku rindukan. Merindukan kehadiran
canda tawa mereka. Mungkinkah ada hari buat kita bersama lagi. Hampir setiap
hari ku berbalas pesan dengan Rendy, tapi tak seperti Tiara. Aku tak tau gimana
kabarnya. Sepertinya dia akan lupa ataupun
mau melupakan semua ini. Aku tak tau.
Semakin
hari semakin ku dekat dengan Rendy, perasaanku jadi aneh setiap kali berbalas
pesan dengannya. Ataukah hanya perasaanku saja.
Tapi,
“ahhh, mana mungkin, mana mungkin..” bisikan hatiku.
“Ini
cuman halusinasi saja, sekian lama ku menjalin persahabatan dengannnya bisa
saja tergoyahkan dengan hal semacam ini.”, pikirku dalam hati
“Hufftt, jangan,
jangan sampai terjadi, jangan, jangan...”, ucapku lagi.
***
Bintang
kembali muncul diperaduannya bersama sang rembulan yang selalu menyinari malam
ini. Aku terbaring di sebuah
ranjang kecil, tempat melepaskan kepenatan setelah seharian berperang dengan
otak melawan ilmu-ilmu pasti namun sangat penting.
Seperti
biasa, dalam keadaan free ini, tugas tak ada, tak tau harus
buat apa. Kesempatan bagiku mencoret-coret kertas putih ini dengan tinta
warna-warni. Ku ambil buku kecil berwarna biru, ku buka perlahan, ku mulai
memasuki dunia khayal. Sekejap pena pun bergoyang diatas kertas putih ini, tak
sadar terangkailah suatu kata-kata ini.
“Cinta itu memang kadang membuat orang lupa akan
segalanya. Karena cinta kita relakan apapun yang kita miliki. Bagi kaum wanita
mencintai itu lebih baik daripada dicintai. Jangan terlalu mengharapkan seorang
yang belum tentu mencintai kita tapi terimalah orang yang sudah mencintai kita
apa adanya. Mencintai tapi tak dicintai itu seperti olahraga lama-lama supaya
kurus tapi hasilnya ga’ kurus-kurus. Belajarlah mencintai diri sendiri sebelum
anda mencintai orang lain”
“Ahh, ada apa gerangan, kenapa ini terjadi, ada apa pada
diriku? “, ejekku.
Sesaat kemudian, ponselku berbunyi,
“Kriiinggg....kriiiinnnggg”.
Oh, ternyata Rendy. Tanpa pikir panjang ku angkat telfonnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum”, ucapku.
“Walaikumsallam”, jawab Rendy.
Sesaat, kita terhening dalam suasana. Kata-kata yang ingin
diucapkan tak mampu lagi terucap. Seakan bibir ini terkunci dalam sekejap.
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku gugup. Hatiku bergetar, bergetar dan
semakin begetar. Tapi, secara spontan Rendy memulai pembicaraan lagi, seakan
merubah kembali keadaan.
“Kok diam, ada yang aneh ya?”, tanya Rendy.
Aku kembali diam tanpa kata, tak tau harus jawab apa. Tapi ku
pikir, kenapa begini, tak enak jikalau aku bersikap seperti ini.
“Hmmm, ga’ kok. Apa yang aneh? Biasa aja”, jawabku simple.
Semula kita banyak diam, tapi lama-kelamaan nyambung aja kok
kita ngobrol. Asyik, bahagia, senang. Pokoknya apa aja deh, semuanya bercampur
aduk.
Tapi, mulai lagi, aku dikejutkan dengan sebuah kata dari
Rendy. Dia mengatakan ingin bersamaku, Dia berkata “Fall in love with me”..Pokoknya banyak yang dia katakan. Antara
percaya atau ga’, tapi hati ini kacau, harus apa. Apa yang harus aku lakukan?
“Oh My
God”, ucapku dalam hati.
Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin, memperhatikan
wajahku yang semakin tak karuan. Panah-panah lara yang dulu sempat aku hindari datang
kembali, ah mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang terjebak dalam kisah
khayal ini? Tidak! Aku tak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku semakin...
semakin kacau. Apakah aku harus jawab ya atau tidak. Disisi lain, aku masih
menganggap dia sebagai sahabatku, tapi disisi lain juga bisa dikatakan ku punya
perasaan dengannya. Tapi tak pernah mengharapkan hal yang demikian.
Hingga beberapa menit terdiam, ku putuskan akhirnya kuterima.
Karena dia sempat mengatakan ini bukan main-main. Rendy sempat kegirangan, aku
tak tau harus apa. Mungkin ini juga jalan bagi kita.
Hari-haripun kulalui bersamanya, meskipun Long Distance, aku di Bukittinggi dan dia di Pekanbaru. Namun apa
salahnya untuk dijalani. Dua hari, tiga hari, tapi kenapa biasa saja yang
kurasakan, tak ada yang spesial, semuanya hanya seperti hari-hari biasa yang
kurasakan.
Di hari keempat, sempat ku tanya hal yang demikian. Apa ada
masalah aku pikir, tapi apa?. Ku berusaha menebak apa yang terjadi. Didalam
hati ku selalu bertanya-tanya.
“Apa mungkin aku yang salah”,ucapku.
***
Malampun tiba, seperti biasa, Rendy mengirimku pesan. Dia
katakan, tak bisa lagi menjalani kebersamaan ini. Dia takut menyakiti hatiku,
lebih baik dia mengatakan sekarang daripada dijauh hari akan membuat ku sakit.
Biarlah dia melihatku sakit sekarang, daripada esok hari dia melihatku lebih
sakit. Tapi, dia berusaha menguatkanku, apabila ini terjadi, dia berharap tak
ada kata benci antara kita. Dia mengharapkan seperti apa dulunya kita,
hendaknya sekarang masih tetap terjaga. Dia tak menginginkan pertengkaran
ataupun bisa jadi permusuhan antara kita.
Aku terkejut, lemas sudah badanku mendengar kabar itu. Beginikah
hidup ini yang kudapatkan, setelah kuterima mudah saja dia memutuskannya. Aku
sempat berpikir, mungkin ini hanya suatu permainan. Hubungan ini terlalu
singkat bagiku. Membuat ku lunglai dan lemah dengan cinta.
“Apa maksudnya, apakah ku pernah berbuat salah dengannnya,
kurasa tidak”, gumamku.
“Ahh, tak usah negative
thinking”, mencoba menguatkan hati ini, padahal terluka.
Aku tau
dia baik, tak mungkin dia berbuat demikian, dia sudah jujur, untuk apa harus
disesali, lebih baik terima kenyataan apa adanya.
Semenjak kejadian itu, ku telah menyadari tak selamanya kita
merasakan kebahagiaan, adakalanya kesedihan akan datang pada diri kita. Memang
persahabatan itu lebih nikmat dibandingkan harus menjalani cinta yang semulanya
kita hanyalah seorang sahabat. Berusaha menjalani persahabatan dengan baik,
tapi begitulah, cobaan tak bisa di tolak. Cinta itu datang dengan sendirinya
tanpa dipaksa.
Aku sempat terpukul dengan sikap Rendy, namun sekarang ku telah
berusaha melupakannya. Dan kembali menjalani hidup dengannya hanyalah sebagai
seorang sahabat, tak lebih.
“Persahabatan yang dijalin cukup lama bisa
hancur seketika karena masalah cinta”. Tak akan terjadi.
Jangan sampai terjadi untuk kedua kalinya.
Lebih baik bersahabat daripada harus mengorbankan persahabatan demi cinta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar